Thursday, October 17, 2019

Sipirok – Film atas inisiatif KAHMI (organisasi alumni HMI) dan Keluarga Besar Lafran Pane itu, dibuka oleh tokoh pendiri KAHMI, Akbar Tanjung, yang juga merangkap sebagai produser eksekutif dalam pembuatan film.

“Film sejarah hidup Lafran Pane ini akan melengkapi film-film sebelumnya yang mrngangkat sosok tokoh nasional seperti Hasyim Azhary, K.H. Ahmad Dahlan, dan lain lain,” kata Akbar Tanjung.

Dengan film ini, Akbar Tanjung berharap agar jasa-jasa Lafran Pane bagi bangsa dan negara menjadi inspirasi bagi generasi muda. Film ini selesai shooting pada November 2019, dan April 2020 akan diputar serentak di bioskop,” katanya.

Film “Demi Waktu” mengisahkan perjalanan hidup Lafran Pane dari sudut pandang istrinya. Kisah dibuka dengan hubungan surat menyurat antara Lafran Pane dengan seorang perempuan yang kelak menjadi istrinya. Di dalam surat itu Lafran Pane mengisahkan riwayat dirinya sejak kecil sampai menjadi sosok intrlektual yang antiprnjajah di zaman Jepang.

Dikisahkan juga bagaimana Lafran Pane mendirikan HMI, sebagai sebuah organisasi pengkaderan mahasiswa yang punya peran sejarah dalam menjagah dan mengisi krmerdekaan RI.

Film yang skenarionya ditulis oleh Jujur Prananto ini digarap olrh sutradara film Habibie Ainun. Sosok Lafram Pane diperankan oleh Dimas Anggara dan sosok ayah Lafran Pane, Sutan Pangurabaan Pane, diperankan oleh Mathias Mucus.

“Pengambilan gambar dilakukan di Klaten dan Sipirok. Di Sipirok hanya beberapa shooting, karena banyak seting yang tidak bisa dihadirkan dan terpaksa dipindahkan ke Jogjakarta,” kata Rizky, bagian casting film saat ditemui waktu survei di Desa Pangurabaan.

Budi Hatees, sastrawan asal Sipirok, yang ditemui di sela sela acara prmotongan tumpeng, menilai pembuatan film Lafran Pane sebagai langkah positif dalam mrngapresiasi peran kesejarahan sosok Pahlawan Nasional.

Dengan adanya film ini, dia berharap agar masyarakat lebih mengenal sosok Lafran Pane. “Pengalaman hidupnya harus menjadi inspirasi bagi masyarakat, bahwa berjuang itu diawali dengan keperdulian pada nasib orang lain dan kemauan untuk memperjuangkan orang lain,” katanya.

Budi Hatees yang juga sedang meneliti dan menulis riwayat hidup Sutan Pangurabaan Pane, menilai sosok Lafran Pane merupakan potret generasi muda zaman lampau yang lahir dan besar di Kota Sipirok. “Mereka telah cerdas karena mengikuti pendidikan formal sejak kecil, srhingga matang secara intelektual. Ketika mereka merantau, merrka sudah punya bahan atau brkal untuk sukses di perantauan,” katanya.

Lafran Pane lahir dari ayah seorang guru, sastrawan, intelektual, dan tokoh pergerakan nasional yang antipenjajah. Selama ayahnya berjuang untuk menggerakkan masyarakat, Sutan Pangurabaan Pane hampir tidak memperhatikan anak anaknya. “Didik dalam keluarga yang terdidik dari segi ilmu pengerahuan, membentuk anak-anak Sutan Pangurabaan Pane menjadi tikoh tokoh nasional seperti ayahnya,” katanya.

Lafran Pane dan saudaranya, Sanusi Pane dan Armijn Pane, dikenal srbagai intelektual berkarakter yang mencintai tradisi daerahnya.(AF)

Tags: , ,

Related Article

No Related Article

0 Comments

Leave a Comment

FOLLOW US

GOOGLE PLUS

PINTEREST

FLICKR

INSTAGRAM

Social