Thursday, October 17, 2019

Banyak yang mengeluhkan kejadian mati lampu di Pulau Jawa dan khususnya di Ibukota Jakarta,  bagaimana tidak listrik merupakan kebutuhan vital di era modern seperti sekarang ini.

Mungkin saatnya kita berhenti mengeluh setidaknya karena ‘mati lampu’ mampu mengurangi pemanasan global yang kian hari semakin mengkhawatirkan. Gaya hidup kita tanpa disadari membahayakan bumi, dan berdampak sangat buruk jika tidak segera ditangani. Dengan demikian, cobalah hari ini kita menganggap mati lampu adalah kontribusi kita dalam menyelamatkan bumi.

Lalu apakah salah berkeluh kesah karena mati lampu ? Namanya juga kebutuhan orang banyak pasti, banyak juga orang berkeluh kesah,  tentu saja tidak ada yang melarang, bahkan mungkin setiap orang akan mengeluh jika mati lampu, termasuk saya sendiri.

Momen mati lampu ini, mungkin salah satu ‘persembahan manusia untuk alam dan bumi ini’. Dengan kejadian mati lampu, maka manusia sudah mampu mengurangi emisi karbon yang terjadi di alam ini.

‘Mati lampu’ artinya terjadi penghematan penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Batubara adalah bahan bakar fosil yang paling banyak mengandung karbon. menurut wwf.or.id jumlah emisi CO2 saat ini 12 kali lebih besar daripada emisi di tahun 1900 karena dunia membakar lebih banyak bahan bakar fosil.

Mati lampu juga berarti alat-alat yang menggunakan CFC, seperti pada freezer dan AC, alat ini berhenti sejenak untuk bekerja. CFC dapat merusak lapisan ozon. Di lapisan atmosfir yang tinggi, ikatan C-Cl akan terputus menghasilkan radikal-radikal bebas klorin. Radikal-radikal inilah yang merusak ozon. 

Dikutip dari bisakimia.com CFC juga bisa menyebabkan pemanasan global. Satu molekul CFC-11 misalnya, memiliki potensi pemanasan global sekitar 5000 kali lebih besar ketimbang sebuah molekul karbon dioksida.(AF)

Tags: ,

Related Article

No Related Article

0 Comments

Leave a Comment

FOLLOW US

GOOGLE PLUS

PINTEREST

FLICKR

INSTAGRAM

Social