Thursday, October 17, 2019

Mengawali semester ganjil tahun Pembelajaran 2019/2020 dunia pendidikan mulai membenahi diri dengan diberlakukannya program penerimaan murid baru dengan sistem zonasi. Dengan mengutamakan siswa yang berdomisili di dekat sekolah maka diharapkan dapat memberikan beberapa kemudahan bagi siswa dalam menjalankan tugas mereka sehari-hari.

Siswa tidak lagi harus menempuh jarak yang jauh dan menghabiskan waktu yang panjang dalam menuju perjalanan ke sekolah. Sehingga selain dapat menghemat tenaga juga dapat lebih mengefisienkan waktu. Dengan itu siswa dapat mempergunakan tenaga dan waktu untuk memaksimalkan diri dalam melaksanakan tugas dan fungsi pembelajaran yang lain seperti: persiapan fisik, mental dan tugas harian.

Adapun pembenahan ini dilakukan bukan semata-mata untuk hal tersebut diatas saja namun juga dalam rangka melaksanakan mandat konstitusi dimana pemenuhan hak dasar anak atas kesempatan mendapat pendidikan dari Negara. Sejalan dengan wajib belajar pendidikan, system zonasi memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat yang selama ini lebih dibatasi oleh persyaratan-persyaratan yang belum tentu dapat mereka penuhi.

Dalam system zonasi ini persyaratan tersebut tereduksi dan kemudian memberikan peluang yang lebih besar kepada mereka. Keberpihakan kepada masyarakat umum ini dirasakan sudah harus dilakukan karena kesadaran pemerintah dalam pembenahan sistem pendidikan yang selama ini lebih beraroma eksklusifitas yang melahirkan kasta-kasta di kalangan masyarakat terhadap satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam hal ini sekolah negeri. Dimana hal ini tidak sejalan dengan prinsip dasar pendidikan yang diselenggarakan untuk pemenuhan hak dasar untuk anak tanpa pengecualian.

Ekskusifitas yang melahirkan pengkastaan sekolah-sekolah ditengah masyarakat yang sudah terjadi puluhan tahun memang tidak serta merta dapat dihilangkan namun dengan pemberlakuan sistem zonasi ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam pemerataan kualitas pendidikan.

Pelaksanaan system yang terbilang sangat baru di telinga masyarakat ini memerlukan cara yang tepat dalam hal pensosialisasiannya. Sosialisasi bukan hanya harus dilakukan kepada penyelenggara PPDB tapi juga kepada masyarakat khususnya orang tua murid yang akan mendaftarkan anak-anaknya ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang terjadi pada penerimaan siswa baru dengan system zonasi yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah di wilayah tertentu ternyata masyarakat masih terkooptasi dengan peristilahaan sekolah bagus dan tidak bagus, sekolah favorit dan bukan favorit dan sebagainya.

Hal ini ditandai dengan berbondong- bondongnya arus orang tua untuk mendaftarkan anak mereka di sekolah yang dianggap paling bagus atau favorit di zonasi mereka dan mengabaikan (menomor dua kan) sekolah lain pada zonasi yang sama. Sebagai contoh terjadinya perbedaan yang tajam terhadap input di sekolah A dengan sekolah B yaitu nilai terendah di sekolah A merupakan nilai tertinggi di sekolah B. kenyataan seperti ini yang masih terjadi karena memang pada kenyataannya mereka merasakan keberadaan sekolah yang bersangkutan seperti itu adanya Hal seperti ini tentunya akan menghambat proses pemerataan yang sedang diusung oleh pemerintah.

Namun bukan berarti system zonasi tidak dapat mengantisipasi hal ini tetapi merupakan budaya pikir dimasyarakat yang masih parsial yang menggangggap bahwa kemajuan sekolah ditentukan oleh sekolah itu sendiri tanpa memikirkan hal inputan.

Karena pada dasarnya unsur sarana dan prasarana yang disediakan oleh pemerintah dalam penyelenggaraan di setiap satuan pendidikan adalah sama rata. Sedangkan perbedaan yang kemudian dirasakan oleh masyarakat adalah hasil komitmen satuan pendidikan itu sendiri dengan masyarakat (orang tua siswa) selaku stake holder yang berkepentingan di sekolah tersebut.

Terlepas dari semua itu pemberlakuan system zonasi pada tahun pembejaran ini patut diapresiasi sebagai langkag awal dalam rangka pemerataan pendidikan di Indonesia yang kemudian akan diikuti oleh proram-program selanjutnya seperti pemetaan ketersediaan sekolah, penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan, peningkatan kompetensi guru dan lain-lain. (ID)

Tags: , ,

Related Article

No Related Article

0 Comments

Leave a Comment

FOLLOW US

GOOGLE PLUS

PINTEREST

FLICKR

INSTAGRAM

Social