Mukhlisin Berharap Adanya Perlindungan Batik Lasem Demi Lestarikan Budaya Rembang
Kurangnya minat menjadi pengrajin batik tulis Lasem menjadi isu krusial, Isu tentang keberlangsungan para pengrajin menjadi salah satu topik yang menyedot perhatian. Sebab, saat ini generasi muda dinilai kurang tertarik. Mereka dianggap lebih memilih untuk bekerja di industri lain.

Mukhlisin Caleg DPRD Kab Rembang Dapil III mengatakan, produk batik tulis Lasem sejak setahun terakhir mulai menggunakan pewarna alami.

PENGRAJIN batik Lasem dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mulai mengembangkan produk batik tulis dengan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan.

Sebelumnya para pengrajin menggunakan pewarna kimia. Menurut Pak MUkhlisin Pewarna alami yang digunakan berasal dari akar-akaran seperti akar mengkudu dan batang mahoni," katanya. Batik yang diproduksi perajin di desa Lasem adalah batik tulis.

Proses pengerjaannya memakan waktu cukup lama sekitar satu bulan, mulai dari pembuatan pola hingga menjadi kain batik siap pakai.

Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp6 juta. "Tergantung motif. Semakin rumit motifnya, semakin mahal," katanya. Motif sekar jagad merupakan motif khas batik Lasem. Namun untuk memenuhi permintaan pelanggan, perajin juga membuat modifikasi motif batik.

Senada dengan hal ini pun “Alan Juyadi Caleg DPR RI No Urut 5 Partai Perindo menginginkan Rembang bisa seperti Yogyakarta, Solo dan Pekalongan yang sudah menjual produk siap pakai batik tulisnya. Ia yakin dengan kesungguhan, para pengrajin batik tulis Lasem bisa terus memajukan batik tulis Lasem dengan kreatifitas dan inovasinya. HK

What's your reaction?

Comments

http://igscyber.com/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!

Facebook Conversations

Disqus Conversations